Dua
kata ini adalah kata sederhanya yang setiap orang dapat menjabarkan makna yang
ter*sirat* didalamnya. Kenapa saya mengatakan makna tersirat? Jawabanya adalah
karena dua kata ini adalah kata yang mengibaratkan tentang suatu perasaan. And,
menurut saya, perasaan seseorang itu tidak dapat di ungkapkan dengan kata-kata
atau pun untaian bahasa lisan. Perasaan itu tidak sesepele kalimat “Gue Cinta
banget sama Loe” atau “Sungguh, Cinta ini Membunuhku” ada yang lebih unik “Jika
kau tak percaya Cintaku, belahlah dadaku ini”. Saya mulai berfikir, apakah
CINTA itu adalah seorang pembunuh? Kalau begitu, lebih baik tidak punya
perasaan, biar tidak bisa merasakan kejamnya CINTA itu.
Menurut
saya, perasaan adalah suatu gejolak jiwa yang di rasakan oleh setiap manusia.
Sepakat sekali dengan kalimat seperti ini “ Perasaan itu ada di hati, bukan di
lisan ataupun mata.” Jadi saya sangat tidak setuju dengan argumen yang
menyatakan “Jika lisanmu tak kuasa mengungkapkan cinta, biarkan matamu
mengatakan apa yang ada di hatimu.” So? Sejak kapan tugas si mulut di
lengserkan pada mata? Trus mulut ganti tugas buat mendengar dan telinga buat
melihat gitu? Oh Filsafat banget coeey...
Oke
lah, gak usah diperpanjang masalah lisan dan mata yang bertukar kewajiban (
baca : tugas ). Kalimat “Romantis” yang sering dikuasai remaja ABABIL Indonesia
ini, ternyata lebih baik dari pada bahasa romantis yang ada di negara-negara
Barat ( kaya Inggris dan Amerika lah,. ) temanya memang bukan tentang lisan dan
mata yang bertukar tugas, tapi tentang kerja sama antara seluruh anggota badan
dalam mengungkapkan suatu perasaan. Ekstrim bukan? Di Indonesia sudah terjadi
penyelewengan tugas, eh ini di negara barat malah kerja sama tak lazim antara
susunan tubuh untuk membantu tugas mulut, jangan-jangan di negara lain ada
pelanggaran hak mulut? Atau malah pergantian posisi antara mulut dan hati?
Betapa malangnya nasib si mulut ini, jika dia manusia pasti dia sudah menangis
di depan Dinas Perlindungan HAM. Mari nyebut bersama-sama, but but but. . .
Sudahlah,
biarkan manusia menggunakan apa yang Tuhan anugrahkan. Urusan bener atau gak,
itu bukan urusan dan wewenang saya. Pesen saya sich jangan sampe terjadi
pelanggaran Hak Hati Nurani ( nama ilmiah : otak ) dalam kehidupan pribadi
anda. Saya juga tidak tau dan belum tau apa itu Hati Nurani, yang saya tau baru
otak yang digunakan manusia untuk berfikir dan memberikan tugas kepada seluruh
susunan tubuh, termasuk hati. Tapi banyak orang berkata, bahwa di Hati Nurani
inilah PERASAAN yang sebenaar-benarnya bersarang ( kaya’ burung aja, bersarang
J). Inilah salah satu alasan, kenapa saya berargumen kalau CINTA dan SAYANG itu
tidak dapat di jelaskan dengan kata-kata atau untaian bahasa lisan. Karena,
manusia itu punya nafsu, lalu apa hubungannya nafsu sama CINTA dan SAYANG?
Apakah mereka bersahabat? Atau saudara yang terpisah? Hmmm mungkinkah mereka
saling bermusuhan?
(Sambung
seri 2)
0 komentar:
Posting Komentar