Kamis, 19 September 2013

"That Should Be Me"

Mataku belum seutuhnya terpejam, telingaku masih terfokus pada gerakan bibirnya. Sesekali aku coba menghentikan tingkah konyolku ini, aku hantamkan bantal pada bagian kepalaku. Dengan harapan, mata dan telingaku berhenti untuk mencuri-curi informasi yang kurang penting. Sampai akhirnya mulutku bergerak secara otomatis.
“Bisa diem gak?!! Udah malam, waktunya tidur.”
Mereka mencoba melirihkan suara, ah ..... aku tak peduli, bukan hal yang penting. Toh aku tau, yang dia bicarakan adalah sosok wanita yang sekarang mendampinginya. Yang dia sebut pacar, yang katanya sudah dekat dengan keluarganya. Aku tak peduli, sungguh tak peduli sama sekali....
***
Sinar matahari semakin menggila, tak ada kerjaan dikantor. aku putuskan untuk mengunjungi ruangan lain. Yaah sekedar mencari teman mengobrol. Siapa yang mengira, dia tiba-tiba datang. Yaaa yaaa yaaa lagi-lagi dia membicarakan “pacar” yang sungguh membuatku malas berada diruangan ini. Aku mencoba tak peduli, ah tidak, aku memang tak peduli dengan apa yang dia bahas, bukan hal yang penting untuk diikuti. Walaupun mau tak mau, telingaku yang nakal ini mencoba memasukan obrolannya dengan Tomy kedalam otakku, mengganggu, sangat mengganggu.
Semakin hari aku semakin malas bertemu dengannya. Apalagi saat mataku bertemu dengan matanya, ingin rasanya aku pergi dan tak kembali lagi ke rumah kontrakan. Yah aku satu kontrakan dengan dia, semua orang memanggilnya Aldo. Sosok lelaki yang tidak bisa dibilang tampan, tidak juga jelek. Dia biasa saja, tapi entahlah selalu ada hal yang menarik darinya yang membuat aku tertawa saat bersamanya, dulu.
Aku hanya tak suka cara dia membicarakan kekasihnya itu, bukan cemburu bukan, hanya tak suka. Dia mau sombong? Aku juga punya kekasih, tapi tak pernah aku umbar, bukan hal yang patut untuk diperbincangkan.
***
Malam ini aku banyak bertukar cerita dengan Tomy. Membicarakan hal yang kecil, sampai dengan usia berpacaranku dengan Roni. Yah, kami banyak berbicara tentang masalah “pacar”. Aku sadari itu, aku membicarakan hal yang tak kusukai jika dia yang  membicarakannya. Setelah lama dan asik mengobrol, Aldo datang. Entah kenapa tema ini menjadi malas aku lanjutkan. Kehadirannya membuat aku malas.
Aku sadar, dia tidak nyaman dengan perubahan sikapku. Aku hanya tak ingin dia mengira aku menyukainya. Atau memang aku menyukainya? Aku kira tidak, aku memiliki pria yang jauh lebih tampan darinya, lebih mengertiku, dan nyata2 menyayangiku. Aku sadari, semakin lama mengenalnya, semakin membuat aku malas berdekatan dengannya.
“kamu knp Sil? Sekarang jarang banget nyapa Aldo?” tanya Tomy, mengagetkan.
“tak apa, aku hanya tak suka cara dia membicarakan pacar, cinta dan apalah itu.”
“Kamu sadar tidak, sudah membuat dia takut dan sedih dengan perubahan sikapmu? Padahal kan dulu ..... ”
“dulu ya dulu, sekarang ya sekarang, udah lah Tom, pandanganku tentangnya sudah berubah, dan aku tak lagi nyaman berkomunikasi dengannya.”

Bersambung....

TERAPI

Beliau telah memakai helm merah bututnya, aku duduk manis dibelakangnya. Motor mulai berjalan, menyusuri jalan yang tak dapat dibilang baik. Ya, jalan menuju rumahku memang buruk, banyak teman-temanku yang mengeluh saat berkunjung ke rumahku. Dan aku? Selalu menikmati jalanan becek penuh lubang ini setiap ingin berpergian.
Sudah 2 minggu aku tak pulang, dan otomatis selama dua minggu ini aku membolos terapi. Pengobatan yang masih rutin aku jalani. Obat yang selalu menghiasi hari-hariku. Terapi rutin setiap minggunya. Terkadang aku merasa jenuh, bosan, benar-benar jenuh.
Hanya helm merah butut Ayah yang aku pandang sedari tadi. Aku coba menikmati pemandangan sekitar. Dedaunan di pohon-pohon itu menghijau, sudah jauh lebih indah dibandingkan 5 bulanan yang lalu. Bayanganku kembali ke waktu lalu, 5 bulan yang lalu, dimana sakit itu menggerogotiku.
Ayah memarkirkan motor di depan rumah praktek terapis itu. Kemudian menggandengku masuk. Selalu ada rasa unik yang menyelimutiku setiap kali ingin melakukan terapi, takut ya takut. Aku masuk ke dalam ruangan yang tidak begitu luas. Ada dua ranjang dan beberapa alat terapi, bekam dan satu lagi alat yang tak ku taui namanya, alat yang begitu menakutkan bagiku. Iya, alat itu yang selalu memberikan sensasi panas yang luar biasa setiap kali terapi ini berlangsung.
Pak Penterapi sedang mengotak atik alat itu, aku menyebutnya pemanas. Aku merebahkan diri di ranjang, pertanda bahwa aku siap menjalani terapi kali ini. Jemari beliau mulai memegang pangkal kepala, ujung leherku. Memijatnya, sakit. Sekali dua kali ketokan keras menghantam kepalaku, aku hanya bisa memejamkan mata, menahan sakit.
Bau minyak sangat menyengat. Bagian punggung sampai leher telah sempurna terkena sentuhan lincah pak penterapi, nyaris setengah jam sudah berlalu. Aku hanya mampu menahan sakit selama itu. Aku tau setelah ini alat panas itu akan menguasai tubuhku. Memberikan rasa panas yang luar biasa pada sekujur tubuhku.
Aku sedikit membenarkan posisiku saat Pak Penterapi mengambil dan menghidupkan alat itu. Aku hanya mampu memejamkan mata, berucap bismillah.
“Jangan di ulangi lagi ya mbak, obat harus selalu di minum”
aku hanya mengagguk, pertanda setuju.
Satu minggu ini aku sama sekali tidak mengkonsumsi obat, karena tertinggal dirumah. Pantas jika aku kena marah. Aku keluar ruangan. Ayah telah menungguku. Kami berpamitan pada pak penterapi, dan siap pulang ke rumah.
Itulah sedikit kisahku tentang terapiku. Bagi kalian semua, jaga kesehatan ya, sakit itu tidak enak.

Penjual Asongan

Entah bagaimana caranya menguraikan dua kata bermakna satu ini, kata yang sering sekali kita dengar saat kita melangkahkan kaki di dunia luar, kata yang seakan mengelilingi kita saat kita berada di tempat-tempat umum, beradara di dalam kendaraan umum, di jalanan dan masih banyak lagi tempat dimana kita bisa menjumpai dua kata tersebut. Ya…Pedagang Asongan dua kata bermakna satu, kali ini saya ingin merangkai kata semampu saya untuk menceritakan tentang kekaguman saya kepada para pedagang asongan, mungkin ada sedikit curcolnya ( curhat curian )juga,hhe
Kekaguman saya ini berawal saat saya berada di dalam sebuah kendaraan umum (bis) jurusan Purwokerto-Yogyakarta, saat itu saya yang sedang berada di kampus mendapat kabar bahwa kakek kritis dan saya diharapkan pulang segera. Dengan sedikit keberanian yang saya punya, saya nekat pulang. Jujur saja, saya adalah seorang mahasiswa yang penakut, untuk tidur sendiri saja saya masih belum berani apalagi mudik sendiri, beuh..takut gila.
Selama hampir satu jam saya berada di dalam bis tersebut, tak ada sesuatu yang bisa membuat saya meninggalkan ketakutan saya, saya mencoba membuka buku berharap bisa sedikit mengurangi rasa takut saya, namun hasilnya? Ketakutan itu justru semakin menggila dan menggerogoti hati dan fikiran saya. Seringnya pengamen yang silih berganti menghibur penumpang bis (entah menghibur atau mencari nafkah) tetap saja belum bisa mengurangi rasa takut yang saya derita.
Sampailah saya di terminal Purworejo, bis yang saya naiki tidak berhenti lama di terminal ini, namun bis saya (bis yang saya naiki) berhenti cukup lama hm…bukan cukup tapi benar-benar lama tepat di pinggiran jalan yang berada setelah belokan, depan pintu keluat terminal. Ada sebuah kondisi yang membuat saya tertarik untuk mengamatinya lebih lama, tepat di samping bis saya terdapat sebuah rumah makan sederhana, mini namun terlihat nyaman dengan menu yang ala’kadarnya, tapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk mengamati rumah makan tersebut. Di halaman rumah makan tersebut terdapat cukup banyak pedagang asongan, beberapa diantaranya masuk dan menawarkan daganganya kepada penumpang bis, termasuk saya, sedangkan yang lainnya menunggu giliran masuk sembari duduk dikursi yang ada di depan rumah makan. Kebanyakan dari pedagang asongan tersebut adalah orang-orang lanjut usia yang seharusnya beristirahat dan merasakan nafkah dari jerih payah anaknya, namun mereka berkeliaran di jalanan, keluar-masuk kendaraan umum, menerima sengatan cahaya matahari yang sumpah panasnya bener-bener maksa saya untuk mengurung diri di dalam lemari es, namun mereka menerima sapaan matahari tersebut dengan senyuman ramah yang diberikannya kepada para penumpang bis.
Subhanallah…sungguh bergetar hati saya melihat pemandangan ini, rasa kagum saya benar-benar mengalahkan ketakutan saya, berbagai pertanyaan seakan mengelilingi hati dan fikiran saya. Setelah bis mulai melanjutkan perjalanan, rasa takut benar-benar telah lenyap, namun berbagai perasaan dan pertanyaan berbaur menjadi satu tembok kokoh yang mengelilingi jiwa saya. Apa mereka tak memiliki anak? Ataukah anak-anak mereka masih kecil? Mungkinkah anak mereka kurang mampu jika harus menampung dan menafkahi orang tuanya? Apa mungkin karena mereka ingin berusaha mencari nafkah yang HALAL dengan tenaga mereka sendiri? Hmm….saya memang pernah merasakan dunia jalanan, jika hanya mengamen, itu adalah kegiatan rutin saya yang saya lakukan setia hari minggu, tapi itu dulu, tepatnya saat saya berada dijenjang SMA. Asik memang mengamen bersama teman dan berkeliling dengan lantunan lagu-lagu, namun saya fikir orang seumuran mereka (pedagang asongan tadi) sudah tidak pantas untuk berkeliaaran didunia jalanan yang sering dibilang “Dunia Keras” ini.
Banyak yang bilang hidup adalah pilihan, terkadang kondisi ekonomi seseorang memojokan orang tersebut untuk bekerja lebih keras untuk melanjutkan hidup mereka, hanya ada dua pilihan cepat, mudah namun HARAM atau lama, menderita, sulit tapi menghasilkan nafkah yang HALAL.
Goresan Tinta ini saya persembahkan teruntuk para pedagang asongan yang telah memberikan saya banyak motifasi, pelajaran, pengalaman dan inspirasi yang luar biasa.

Rabu, 18 September 2013

Cintai Aku Sesuai Kadarnya.


Yogyakarta, 19 September 2013
Suara merdu sang diva Indonesia masih menggema dengan indah di kamar kosku yang tak lagi berbentuk kamar anak perempuan ini. Kertas dan buku yang berserakan, baju tergeletak dimana-mana. Harap makhlum, lemari pakaianku tak lagi muat untuk menaruh baju-bajuku. Tas PPL, debu dan rambut rontok yang menjerit minta disapu. Aku merasa malu menyebut diriku sebagai salah satu keturunan Hawa.
Leptop dan modem selalu mampu membuatku betah duduk seharian di dalam kamar, tak peduli bagaimanapun bentuk kamar ini. Kegiatan KKN-PPL membuatku memicingkan mata pada kondisi kamar ini. Sekarang laporan dua kegiatan itu memaksaku memberikan 75% perhatianku. Tenanglah, akan ku segerakan merapikanmu kamar.
Kamar ini adalah tempat favoritku di Kota Gudeg ini. Dari mulai mengerjakan tugas kuliah, tidur, mendengarkan musik, online, merenungkan masa lalu dan mengkhayalkan masa depan. Detik ini, dikamar ini, akhirnya ku tuliskan catatan tentang virus “galauisasi” yang baru saja mampir di khayalanku.
Kalian pernah merasakan indahnya dicintai dengan tulus?
Pernah merasakan sejuknya mencintai dengan ikhlas?
Pengalaman mengajarkanku tentang arti mengikhlaskan orang yang kita cintai, untuk kebahagiaannya dengan perempuan lain. Sakit, sakit sekali. Empat tahun jalan bersama, hampir setiap hari aku hiasi hariku dengan suara dan kabar darinya. Tapi, apalah daya, dia memilih perempuan lain disela-sela cintaku yang masih sangat besar padanya. Dan dia mengajarkanku arti mencintai yang sebenarnya. Mencintai bukan berarti harus memiliki, terdengar begitu munafik bukan? Tapi aku telah melakukannya, percayalah, seberat apapun itu, itulah pengorbanan cinta. Menerima kita, tidak berarti dia mencintai kita. Kita tak bisa memaksakan orang lain untuk mencintai kita kan?
“Jangan terlalu mencintai seseorang, karena dalam kondisi itu, akan mudah bagimu berbalik membencinya.”
Pernah dengan ungkapan “Cinta dan Benci itu beda tipis” ?
Aku pernah membuktikannya. Cinta pertamaku mengajarkanku arti ungkapan itu. Dulu, aku begitu mencintainya. Mengagumi setiap apapun yang ada pada dirinya. Sampai akhirnya dia memintaku menjadi kekasihnya. Itu adalah hal paling membahagiakan di masa remajaku. Mendapatkan cintaku. Kalian tau berapa hari kita jadian? 4 hari. Setelah itu, aku membutuhkan waktu 3 tahun untuk membenci dan menetralkan rasaku.
Katakanlah, dua kali aku jatuh cinta. Dan kali ini, aku merasakan indahnya dicintai. Merasakan bahagianya diterima apa adanya. Menikmati setiap perhatian dan kepedualiannya. Inikah balasan untuk kegagalan cintaku?
Entahlah, terkadang aku berfikir, Tuhan ingin bermain dengan teka-teki dan semua kode-kodenya. Saat kita berfikir itu petunjuk, bisa saja itu teka-teki yang butuh dipecahkan. Saat kita berfikir itu permainan, bisa saja itu petunjuk yang harus di ikuti alurnya. Hidup tidak hanya penuh dengan ujian dan permainan, hidup juga penuh jebakan. Kita harus berhati-hati dalam setiap langkah. Jika tidak, BUM, dalam satu langkah kita akan terjatuh.
Beberapa bulan yang lalu, aku menyebutnya pacar. Tapi, karena cinta dan emoisinya tak mampu dia kontrol. Dia sendiri yang mengakhiri hubungan kita, dalam hitungan jam dia menginginkanku kembali, sayangnya aku bukan permainan yang bisa dia mulai serta akhiri sesukanya. Pengalaman membuatku malas bermain-main dalam sebuah hubungan, lagi. Aku memang manja, masih kekanak-kanakan, tapi aku berusaha untuk dewasa dalam sebuah hubungan.
Ketakutan ini begitu saja muncul. Saat aku menyadari semakin hari, cintanya semakin dalam. Dan entah pelajaran apa yang ingin Tuhan ajarkan padaku, Dia masih saja enggan menyisipkan rasa cinta dihatiku untuk lelaki ini. Kurang apa dia untukku? Bahkan bayangan pernikahan sudah menggantung didepan mata. Tapi, kenapa masih saja hambar rasanya? Jika sekali saja aku diijinkan memaksa Tuhan, aku ingin memaksanya untuk memberikan rasa cinta untukku bagi lelaki itu. Lelaki yang menerimaku apa adanya. Lelaki yang mencintaiku dengan tulus. Iya, lelaki yang membuat aku merasa menjadi wanita. Lelaki yang sangat ku sayangi, tapi lagi-lagi aku belum mampu mencintainya.
Salahkan jika aku takut rasa cintanya berubah jadi benci?
Aku berharap ini hanya ketakutanku. Aku berharap semakin berjalannya waktu, dia akan semakin mampu mengontrol rasa cintanya. Aku berharap dia mampu membedakan mana cinta dan mana obsesi. Dan sampai detik ini aku masih berharap dia menjadi kakak yang baik untukku. Karena aku akan berusaha menjadi adik yang mengertinya. Maaf, karena sampai detik ini, hanya hubungan “kakak-adik” yang bisa ku janjikan. Aku belum berani menjanjikan apapun, walaupun faktanya, kamu masih teristimewa.