Mataku belum seutuhnya terpejam, telingaku masih terfokus pada
gerakan bibirnya. Sesekali aku coba menghentikan tingkah konyolku ini,
aku hantamkan bantal pada bagian kepalaku. Dengan harapan, mata dan
telingaku berhenti untuk mencuri-curi informasi yang kurang penting.
Sampai akhirnya mulutku bergerak secara otomatis.
“Bisa diem gak?!! Udah malam, waktunya tidur.”
Mereka
mencoba melirihkan suara, ah ..... aku tak peduli, bukan hal yang
penting. Toh aku tau, yang dia bicarakan adalah sosok wanita yang
sekarang mendampinginya. Yang dia sebut pacar, yang katanya sudah dekat
dengan keluarganya. Aku tak peduli, sungguh tak peduli sama sekali....
***
Sinar
matahari semakin menggila, tak ada kerjaan dikantor. aku putuskan untuk
mengunjungi ruangan lain. Yaah sekedar mencari teman mengobrol. Siapa
yang mengira, dia tiba-tiba datang. Yaaa yaaa yaaa lagi-lagi dia
membicarakan “pacar” yang sungguh membuatku malas berada diruangan ini.
Aku mencoba tak peduli, ah tidak, aku memang tak peduli dengan apa yang
dia bahas, bukan hal yang penting untuk diikuti. Walaupun mau tak mau,
telingaku yang nakal ini mencoba memasukan obrolannya dengan Tomy
kedalam otakku, mengganggu, sangat mengganggu.
Semakin
hari aku semakin malas bertemu dengannya. Apalagi saat mataku bertemu
dengan matanya, ingin rasanya aku pergi dan tak kembali lagi ke rumah
kontrakan. Yah aku satu kontrakan dengan dia, semua orang memanggilnya
Aldo. Sosok lelaki yang tidak bisa dibilang tampan, tidak juga jelek.
Dia biasa saja, tapi entahlah selalu ada hal yang menarik darinya yang
membuat aku tertawa saat bersamanya, dulu.
Aku hanya
tak suka cara dia membicarakan kekasihnya itu, bukan cemburu bukan,
hanya tak suka. Dia mau sombong? Aku juga punya kekasih, tapi tak pernah
aku umbar, bukan hal yang patut untuk diperbincangkan.
***
Malam
ini aku banyak bertukar cerita dengan Tomy. Membicarakan hal yang
kecil, sampai dengan usia berpacaranku dengan Roni. Yah, kami banyak
berbicara tentang masalah “pacar”. Aku sadari itu, aku membicarakan hal
yang tak kusukai jika dia yang membicarakannya. Setelah
lama dan asik mengobrol, Aldo datang. Entah kenapa tema ini menjadi
malas aku lanjutkan. Kehadirannya membuat aku malas.
Aku
sadar, dia tidak nyaman dengan perubahan sikapku. Aku hanya tak ingin
dia mengira aku menyukainya. Atau memang aku menyukainya? Aku kira
tidak, aku memiliki pria yang jauh lebih tampan darinya, lebih
mengertiku, dan nyata2 menyayangiku. Aku sadari, semakin lama
mengenalnya, semakin membuat aku malas berdekatan dengannya.
“kamu knp Sil? Sekarang jarang banget nyapa Aldo?” tanya Tomy, mengagetkan.
“tak apa, aku hanya tak suka cara dia membicarakan pacar, cinta dan apalah itu.”
“Kamu sadar tidak, sudah membuat dia takut dan sedih dengan perubahan sikapmu? Padahal kan dulu ..... ”
“dulu
ya dulu, sekarang ya sekarang, udah lah Tom, pandanganku tentangnya
sudah berubah, dan aku tak lagi nyaman berkomunikasi dengannya.”
Bersambung....
