Beliau telah memakai helm merah bututnya, aku duduk manis
dibelakangnya. Motor mulai berjalan, menyusuri jalan yang tak dapat
dibilang baik. Ya, jalan menuju rumahku memang buruk, banyak
teman-temanku yang mengeluh saat berkunjung ke rumahku. Dan aku? Selalu
menikmati jalanan becek penuh lubang ini setiap ingin berpergian.
Sudah 2 minggu aku tak pulang, dan otomatis selama dua minggu ini aku
membolos terapi. Pengobatan yang masih rutin aku jalani. Obat yang
selalu menghiasi hari-hariku. Terapi rutin setiap minggunya. Terkadang
aku merasa jenuh, bosan, benar-benar jenuh.
Hanya helm merah butut Ayah yang aku pandang sedari tadi. Aku coba
menikmati pemandangan sekitar. Dedaunan di pohon-pohon itu menghijau,
sudah jauh lebih indah dibandingkan 5 bulanan yang lalu. Bayanganku
kembali ke waktu lalu, 5 bulan yang lalu, dimana sakit itu
menggerogotiku.
Ayah memarkirkan motor di depan rumah praktek terapis itu. Kemudian
menggandengku masuk. Selalu ada rasa unik yang menyelimutiku setiap kali
ingin melakukan terapi, takut ya takut. Aku masuk ke dalam ruangan yang
tidak begitu luas. Ada dua ranjang dan beberapa alat terapi, bekam dan
satu lagi alat yang tak ku taui namanya, alat yang begitu menakutkan
bagiku. Iya, alat itu yang selalu memberikan sensasi panas yang luar
biasa setiap kali terapi ini berlangsung.
Pak Penterapi sedang mengotak atik alat itu, aku menyebutnya pemanas.
Aku merebahkan diri di ranjang, pertanda bahwa aku siap menjalani
terapi kali ini. Jemari beliau mulai memegang pangkal kepala, ujung
leherku. Memijatnya, sakit. Sekali dua kali ketokan keras menghantam
kepalaku, aku hanya bisa memejamkan mata, menahan sakit.
Bau minyak sangat menyengat. Bagian punggung sampai leher telah
sempurna terkena sentuhan lincah pak penterapi, nyaris setengah jam
sudah berlalu. Aku hanya mampu menahan sakit selama itu. Aku tau setelah
ini alat panas itu akan menguasai tubuhku. Memberikan rasa panas yang
luar biasa pada sekujur tubuhku.
Aku sedikit membenarkan posisiku saat Pak Penterapi mengambil dan
menghidupkan alat itu. Aku hanya mampu memejamkan mata, berucap
bismillah.
“Jangan di ulangi lagi ya mbak, obat harus selalu di minum”
aku hanya mengagguk, pertanda setuju.
Satu minggu ini aku sama sekali tidak mengkonsumsi obat, karena
tertinggal dirumah. Pantas jika aku kena marah. Aku keluar ruangan. Ayah
telah menungguku. Kami berpamitan pada pak penterapi, dan siap pulang
ke rumah.
Itulah sedikit kisahku tentang terapiku. Bagi kalian semua, jaga kesehatan ya, sakit itu tidak enak.
0 komentar:
Posting Komentar