Kamis, 19 September 2013

TERAPI

Beliau telah memakai helm merah bututnya, aku duduk manis dibelakangnya. Motor mulai berjalan, menyusuri jalan yang tak dapat dibilang baik. Ya, jalan menuju rumahku memang buruk, banyak teman-temanku yang mengeluh saat berkunjung ke rumahku. Dan aku? Selalu menikmati jalanan becek penuh lubang ini setiap ingin berpergian.
Sudah 2 minggu aku tak pulang, dan otomatis selama dua minggu ini aku membolos terapi. Pengobatan yang masih rutin aku jalani. Obat yang selalu menghiasi hari-hariku. Terapi rutin setiap minggunya. Terkadang aku merasa jenuh, bosan, benar-benar jenuh.
Hanya helm merah butut Ayah yang aku pandang sedari tadi. Aku coba menikmati pemandangan sekitar. Dedaunan di pohon-pohon itu menghijau, sudah jauh lebih indah dibandingkan 5 bulanan yang lalu. Bayanganku kembali ke waktu lalu, 5 bulan yang lalu, dimana sakit itu menggerogotiku.
Ayah memarkirkan motor di depan rumah praktek terapis itu. Kemudian menggandengku masuk. Selalu ada rasa unik yang menyelimutiku setiap kali ingin melakukan terapi, takut ya takut. Aku masuk ke dalam ruangan yang tidak begitu luas. Ada dua ranjang dan beberapa alat terapi, bekam dan satu lagi alat yang tak ku taui namanya, alat yang begitu menakutkan bagiku. Iya, alat itu yang selalu memberikan sensasi panas yang luar biasa setiap kali terapi ini berlangsung.
Pak Penterapi sedang mengotak atik alat itu, aku menyebutnya pemanas. Aku merebahkan diri di ranjang, pertanda bahwa aku siap menjalani terapi kali ini. Jemari beliau mulai memegang pangkal kepala, ujung leherku. Memijatnya, sakit. Sekali dua kali ketokan keras menghantam kepalaku, aku hanya bisa memejamkan mata, menahan sakit.
Bau minyak sangat menyengat. Bagian punggung sampai leher telah sempurna terkena sentuhan lincah pak penterapi, nyaris setengah jam sudah berlalu. Aku hanya mampu menahan sakit selama itu. Aku tau setelah ini alat panas itu akan menguasai tubuhku. Memberikan rasa panas yang luar biasa pada sekujur tubuhku.
Aku sedikit membenarkan posisiku saat Pak Penterapi mengambil dan menghidupkan alat itu. Aku hanya mampu memejamkan mata, berucap bismillah.
“Jangan di ulangi lagi ya mbak, obat harus selalu di minum”
aku hanya mengagguk, pertanda setuju.
Satu minggu ini aku sama sekali tidak mengkonsumsi obat, karena tertinggal dirumah. Pantas jika aku kena marah. Aku keluar ruangan. Ayah telah menungguku. Kami berpamitan pada pak penterapi, dan siap pulang ke rumah.
Itulah sedikit kisahku tentang terapiku. Bagi kalian semua, jaga kesehatan ya, sakit itu tidak enak.

0 komentar:

Posting Komentar