Rabu, 18 September 2013

Cintai Aku Sesuai Kadarnya.


Yogyakarta, 19 September 2013
Suara merdu sang diva Indonesia masih menggema dengan indah di kamar kosku yang tak lagi berbentuk kamar anak perempuan ini. Kertas dan buku yang berserakan, baju tergeletak dimana-mana. Harap makhlum, lemari pakaianku tak lagi muat untuk menaruh baju-bajuku. Tas PPL, debu dan rambut rontok yang menjerit minta disapu. Aku merasa malu menyebut diriku sebagai salah satu keturunan Hawa.
Leptop dan modem selalu mampu membuatku betah duduk seharian di dalam kamar, tak peduli bagaimanapun bentuk kamar ini. Kegiatan KKN-PPL membuatku memicingkan mata pada kondisi kamar ini. Sekarang laporan dua kegiatan itu memaksaku memberikan 75% perhatianku. Tenanglah, akan ku segerakan merapikanmu kamar.
Kamar ini adalah tempat favoritku di Kota Gudeg ini. Dari mulai mengerjakan tugas kuliah, tidur, mendengarkan musik, online, merenungkan masa lalu dan mengkhayalkan masa depan. Detik ini, dikamar ini, akhirnya ku tuliskan catatan tentang virus “galauisasi” yang baru saja mampir di khayalanku.
Kalian pernah merasakan indahnya dicintai dengan tulus?
Pernah merasakan sejuknya mencintai dengan ikhlas?
Pengalaman mengajarkanku tentang arti mengikhlaskan orang yang kita cintai, untuk kebahagiaannya dengan perempuan lain. Sakit, sakit sekali. Empat tahun jalan bersama, hampir setiap hari aku hiasi hariku dengan suara dan kabar darinya. Tapi, apalah daya, dia memilih perempuan lain disela-sela cintaku yang masih sangat besar padanya. Dan dia mengajarkanku arti mencintai yang sebenarnya. Mencintai bukan berarti harus memiliki, terdengar begitu munafik bukan? Tapi aku telah melakukannya, percayalah, seberat apapun itu, itulah pengorbanan cinta. Menerima kita, tidak berarti dia mencintai kita. Kita tak bisa memaksakan orang lain untuk mencintai kita kan?
“Jangan terlalu mencintai seseorang, karena dalam kondisi itu, akan mudah bagimu berbalik membencinya.”
Pernah dengan ungkapan “Cinta dan Benci itu beda tipis” ?
Aku pernah membuktikannya. Cinta pertamaku mengajarkanku arti ungkapan itu. Dulu, aku begitu mencintainya. Mengagumi setiap apapun yang ada pada dirinya. Sampai akhirnya dia memintaku menjadi kekasihnya. Itu adalah hal paling membahagiakan di masa remajaku. Mendapatkan cintaku. Kalian tau berapa hari kita jadian? 4 hari. Setelah itu, aku membutuhkan waktu 3 tahun untuk membenci dan menetralkan rasaku.
Katakanlah, dua kali aku jatuh cinta. Dan kali ini, aku merasakan indahnya dicintai. Merasakan bahagianya diterima apa adanya. Menikmati setiap perhatian dan kepedualiannya. Inikah balasan untuk kegagalan cintaku?
Entahlah, terkadang aku berfikir, Tuhan ingin bermain dengan teka-teki dan semua kode-kodenya. Saat kita berfikir itu petunjuk, bisa saja itu teka-teki yang butuh dipecahkan. Saat kita berfikir itu permainan, bisa saja itu petunjuk yang harus di ikuti alurnya. Hidup tidak hanya penuh dengan ujian dan permainan, hidup juga penuh jebakan. Kita harus berhati-hati dalam setiap langkah. Jika tidak, BUM, dalam satu langkah kita akan terjatuh.
Beberapa bulan yang lalu, aku menyebutnya pacar. Tapi, karena cinta dan emoisinya tak mampu dia kontrol. Dia sendiri yang mengakhiri hubungan kita, dalam hitungan jam dia menginginkanku kembali, sayangnya aku bukan permainan yang bisa dia mulai serta akhiri sesukanya. Pengalaman membuatku malas bermain-main dalam sebuah hubungan, lagi. Aku memang manja, masih kekanak-kanakan, tapi aku berusaha untuk dewasa dalam sebuah hubungan.
Ketakutan ini begitu saja muncul. Saat aku menyadari semakin hari, cintanya semakin dalam. Dan entah pelajaran apa yang ingin Tuhan ajarkan padaku, Dia masih saja enggan menyisipkan rasa cinta dihatiku untuk lelaki ini. Kurang apa dia untukku? Bahkan bayangan pernikahan sudah menggantung didepan mata. Tapi, kenapa masih saja hambar rasanya? Jika sekali saja aku diijinkan memaksa Tuhan, aku ingin memaksanya untuk memberikan rasa cinta untukku bagi lelaki itu. Lelaki yang menerimaku apa adanya. Lelaki yang mencintaiku dengan tulus. Iya, lelaki yang membuat aku merasa menjadi wanita. Lelaki yang sangat ku sayangi, tapi lagi-lagi aku belum mampu mencintainya.
Salahkan jika aku takut rasa cintanya berubah jadi benci?
Aku berharap ini hanya ketakutanku. Aku berharap semakin berjalannya waktu, dia akan semakin mampu mengontrol rasa cintanya. Aku berharap dia mampu membedakan mana cinta dan mana obsesi. Dan sampai detik ini aku masih berharap dia menjadi kakak yang baik untukku. Karena aku akan berusaha menjadi adik yang mengertinya. Maaf, karena sampai detik ini, hanya hubungan “kakak-adik” yang bisa ku janjikan. Aku belum berani menjanjikan apapun, walaupun faktanya, kamu masih teristimewa.

0 komentar:

Posting Komentar