Yogyakarta,
19 September 2013
Suara
merdu sang diva Indonesia masih menggema dengan indah di kamar kosku yang tak
lagi berbentuk kamar anak perempuan ini. Kertas dan buku yang berserakan, baju
tergeletak dimana-mana. Harap makhlum, lemari pakaianku tak lagi muat untuk
menaruh baju-bajuku. Tas PPL, debu dan rambut rontok yang menjerit minta
disapu. Aku merasa malu menyebut diriku sebagai salah satu keturunan Hawa.
Leptop
dan modem selalu mampu membuatku betah duduk seharian di dalam kamar, tak
peduli bagaimanapun bentuk kamar ini. Kegiatan KKN-PPL membuatku memicingkan
mata pada kondisi kamar ini. Sekarang laporan dua kegiatan itu memaksaku
memberikan 75% perhatianku. Tenanglah, akan ku segerakan merapikanmu kamar.
Kamar
ini adalah tempat favoritku di Kota Gudeg ini. Dari mulai mengerjakan tugas
kuliah, tidur, mendengarkan musik, online, merenungkan masa lalu dan
mengkhayalkan masa depan. Detik ini, dikamar ini, akhirnya ku tuliskan catatan
tentang virus “galauisasi” yang baru saja mampir di khayalanku.
Kalian
pernah merasakan indahnya dicintai dengan tulus?
Pernah
merasakan sejuknya mencintai dengan ikhlas?
Pengalaman
mengajarkanku tentang arti mengikhlaskan orang yang kita cintai, untuk
kebahagiaannya dengan perempuan lain. Sakit, sakit sekali. Empat tahun jalan
bersama, hampir setiap hari aku hiasi hariku dengan suara dan kabar darinya. Tapi,
apalah daya, dia memilih perempuan lain disela-sela cintaku yang masih sangat
besar padanya. Dan dia mengajarkanku arti mencintai yang sebenarnya. Mencintai bukan
berarti harus memiliki, terdengar begitu munafik bukan? Tapi aku telah
melakukannya, percayalah, seberat apapun itu, itulah pengorbanan cinta. Menerima
kita, tidak berarti dia mencintai kita. Kita tak bisa memaksakan orang lain
untuk mencintai kita kan?
“Jangan terlalu mencintai seseorang, karena dalam kondisi itu, akan
mudah bagimu berbalik membencinya.”
Pernah
dengan ungkapan “Cinta dan Benci itu beda tipis” ?
Aku
pernah membuktikannya. Cinta pertamaku mengajarkanku arti ungkapan itu. Dulu,
aku begitu mencintainya. Mengagumi setiap apapun yang ada pada dirinya. Sampai akhirnya
dia memintaku menjadi kekasihnya. Itu adalah hal paling membahagiakan di masa
remajaku. Mendapatkan cintaku. Kalian tau berapa hari kita jadian? 4 hari. Setelah
itu, aku membutuhkan waktu 3 tahun untuk membenci dan menetralkan rasaku.
Katakanlah,
dua kali aku jatuh cinta. Dan kali ini, aku merasakan indahnya dicintai. Merasakan
bahagianya diterima apa adanya. Menikmati setiap perhatian dan kepedualiannya. Inikah
balasan untuk kegagalan cintaku?
Entahlah,
terkadang aku berfikir, Tuhan ingin bermain dengan teka-teki dan semua
kode-kodenya. Saat kita berfikir itu petunjuk, bisa saja itu teka-teki yang
butuh dipecahkan. Saat kita berfikir itu permainan, bisa saja itu petunjuk yang
harus di ikuti alurnya. Hidup tidak hanya penuh dengan ujian dan permainan,
hidup juga penuh jebakan. Kita harus berhati-hati dalam setiap langkah. Jika tidak,
BUM, dalam satu langkah kita akan terjatuh.
Beberapa
bulan yang lalu, aku menyebutnya pacar. Tapi, karena cinta dan emoisinya tak
mampu dia kontrol. Dia sendiri yang mengakhiri hubungan kita, dalam hitungan
jam dia menginginkanku kembali, sayangnya aku bukan permainan yang bisa dia
mulai serta akhiri sesukanya. Pengalaman membuatku malas bermain-main dalam
sebuah hubungan, lagi. Aku memang manja, masih kekanak-kanakan, tapi aku
berusaha untuk dewasa dalam sebuah hubungan.
Ketakutan
ini begitu saja muncul. Saat aku menyadari semakin hari, cintanya semakin
dalam. Dan entah pelajaran apa yang ingin Tuhan ajarkan padaku, Dia masih saja
enggan menyisipkan rasa cinta dihatiku untuk lelaki ini. Kurang apa dia
untukku? Bahkan bayangan pernikahan sudah menggantung didepan mata. Tapi,
kenapa masih saja hambar rasanya? Jika sekali saja aku diijinkan memaksa Tuhan,
aku ingin memaksanya untuk memberikan rasa cinta untukku bagi lelaki itu. Lelaki
yang menerimaku apa adanya. Lelaki yang mencintaiku dengan tulus. Iya, lelaki
yang membuat aku merasa menjadi wanita. Lelaki yang sangat ku sayangi, tapi
lagi-lagi aku belum mampu mencintainya.
Salahkan
jika aku takut rasa cintanya berubah jadi benci?
Aku
berharap ini hanya ketakutanku. Aku berharap semakin berjalannya waktu, dia
akan semakin mampu mengontrol rasa cintanya. Aku berharap dia mampu membedakan
mana cinta dan mana obsesi. Dan sampai detik ini aku masih berharap dia menjadi
kakak yang baik untukku. Karena aku akan berusaha menjadi adik yang
mengertinya. Maaf, karena sampai detik ini, hanya hubungan “kakak-adik” yang
bisa ku janjikan. Aku belum berani menjanjikan apapun, walaupun faktanya, kamu
masih teristimewa.
0 komentar:
Posting Komentar