Kamis, 19 September 2013

Penjual Asongan

Entah bagaimana caranya menguraikan dua kata bermakna satu ini, kata yang sering sekali kita dengar saat kita melangkahkan kaki di dunia luar, kata yang seakan mengelilingi kita saat kita berada di tempat-tempat umum, beradara di dalam kendaraan umum, di jalanan dan masih banyak lagi tempat dimana kita bisa menjumpai dua kata tersebut. Ya…Pedagang Asongan dua kata bermakna satu, kali ini saya ingin merangkai kata semampu saya untuk menceritakan tentang kekaguman saya kepada para pedagang asongan, mungkin ada sedikit curcolnya ( curhat curian )juga,hhe
Kekaguman saya ini berawal saat saya berada di dalam sebuah kendaraan umum (bis) jurusan Purwokerto-Yogyakarta, saat itu saya yang sedang berada di kampus mendapat kabar bahwa kakek kritis dan saya diharapkan pulang segera. Dengan sedikit keberanian yang saya punya, saya nekat pulang. Jujur saja, saya adalah seorang mahasiswa yang penakut, untuk tidur sendiri saja saya masih belum berani apalagi mudik sendiri, beuh..takut gila.
Selama hampir satu jam saya berada di dalam bis tersebut, tak ada sesuatu yang bisa membuat saya meninggalkan ketakutan saya, saya mencoba membuka buku berharap bisa sedikit mengurangi rasa takut saya, namun hasilnya? Ketakutan itu justru semakin menggila dan menggerogoti hati dan fikiran saya. Seringnya pengamen yang silih berganti menghibur penumpang bis (entah menghibur atau mencari nafkah) tetap saja belum bisa mengurangi rasa takut yang saya derita.
Sampailah saya di terminal Purworejo, bis yang saya naiki tidak berhenti lama di terminal ini, namun bis saya (bis yang saya naiki) berhenti cukup lama hm…bukan cukup tapi benar-benar lama tepat di pinggiran jalan yang berada setelah belokan, depan pintu keluat terminal. Ada sebuah kondisi yang membuat saya tertarik untuk mengamatinya lebih lama, tepat di samping bis saya terdapat sebuah rumah makan sederhana, mini namun terlihat nyaman dengan menu yang ala’kadarnya, tapi bukan itu yang membuat saya tertarik untuk mengamati rumah makan tersebut. Di halaman rumah makan tersebut terdapat cukup banyak pedagang asongan, beberapa diantaranya masuk dan menawarkan daganganya kepada penumpang bis, termasuk saya, sedangkan yang lainnya menunggu giliran masuk sembari duduk dikursi yang ada di depan rumah makan. Kebanyakan dari pedagang asongan tersebut adalah orang-orang lanjut usia yang seharusnya beristirahat dan merasakan nafkah dari jerih payah anaknya, namun mereka berkeliaran di jalanan, keluar-masuk kendaraan umum, menerima sengatan cahaya matahari yang sumpah panasnya bener-bener maksa saya untuk mengurung diri di dalam lemari es, namun mereka menerima sapaan matahari tersebut dengan senyuman ramah yang diberikannya kepada para penumpang bis.
Subhanallah…sungguh bergetar hati saya melihat pemandangan ini, rasa kagum saya benar-benar mengalahkan ketakutan saya, berbagai pertanyaan seakan mengelilingi hati dan fikiran saya. Setelah bis mulai melanjutkan perjalanan, rasa takut benar-benar telah lenyap, namun berbagai perasaan dan pertanyaan berbaur menjadi satu tembok kokoh yang mengelilingi jiwa saya. Apa mereka tak memiliki anak? Ataukah anak-anak mereka masih kecil? Mungkinkah anak mereka kurang mampu jika harus menampung dan menafkahi orang tuanya? Apa mungkin karena mereka ingin berusaha mencari nafkah yang HALAL dengan tenaga mereka sendiri? Hmm….saya memang pernah merasakan dunia jalanan, jika hanya mengamen, itu adalah kegiatan rutin saya yang saya lakukan setia hari minggu, tapi itu dulu, tepatnya saat saya berada dijenjang SMA. Asik memang mengamen bersama teman dan berkeliling dengan lantunan lagu-lagu, namun saya fikir orang seumuran mereka (pedagang asongan tadi) sudah tidak pantas untuk berkeliaaran didunia jalanan yang sering dibilang “Dunia Keras” ini.
Banyak yang bilang hidup adalah pilihan, terkadang kondisi ekonomi seseorang memojokan orang tersebut untuk bekerja lebih keras untuk melanjutkan hidup mereka, hanya ada dua pilihan cepat, mudah namun HARAM atau lama, menderita, sulit tapi menghasilkan nafkah yang HALAL.
Goresan Tinta ini saya persembahkan teruntuk para pedagang asongan yang telah memberikan saya banyak motifasi, pelajaran, pengalaman dan inspirasi yang luar biasa.

0 komentar:

Posting Komentar